Thursday, May 28, 2015

Budidaya Ikan Baung Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168

Budidaya Ikan Baung Pendahuluan Kegiatan budidaya ikan saat ini sudah banyak diminati masyarakat. Dengan sistem budidaya yang efisien, biaya yang relative murah, namun dapat menjadikannya sebagai peluang usaha yang menguntungkan bagi para pelaku pembudidaya ikan Kabupaten balangan adalah salah satu wilayah yang ada di Kalimantan Selatan, yang sebagian besar wilayahnya dengan kategori perairan umum, sudah mulai mengefektifkan kegiatan budidaya ikan air tawar. Salah satunya adalah ikan Baung (Hemibragus nemurus). Ikan yang masih tergolong cat fish ini mulai dibudidayakan di karamba dan perkolaman. Sistem pemeliharaannya pun mudah sehingga pembudidaya dapat melakukan kegiatan pembesaran Biologi Ikan Baung Secara taksonomi (sistem penamaan) dan sistematika, Ikan baung diklasifikasikan sebagai berikut : Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Subkelas : Teleostei Ordo : Siluriformes Famili : Bagridae Genus : Hemibagrus Species : Hemibagrus nemurus Ciri – ciri ikan baung yaitu : ¤ Tumbuh hingga 65 cm dengan berat hingga 6 kilogram ¤ Bentuk badan agak memanjang ¤ Badan licin tidak bersisik, warna tubuh coklat gelap ¤ Mempunyai dua pasang sungut ¤ Multi subterminal , ukuran mulut lebar dan tidak dapat disembuhkan ¤ Bibir tipis, bibir atas ditutup, kulit lipatan hidung dan bersambung dengan bibir bawah serta tidak bergerigi Teknis Perbenihan A. Persiapan Indoor Hatchery 1. Pengisian air tandon dimaksudkan sebagai stok persediaan air bersih yang diendapkan selama 2 – 3 hari sebelum dialirkan ke akuarium dan bak fiber 2. Aquarium diisi dengan ketinggian 30 – 35 cm dan sifon kotoran yang ada di dasar 3. Bak Fiber diisi dengan ketinggian 30 – 40 cm 4. Persiapan alat harus benar – benar diperhatikan sebelum proses produksi dilakukan. Seperti persiapan perangkat aerasi (hi-blow, selang, keran dan batu aerasi), heater terpasang pada aquarium dengan suhu pada kisaran 29 - 30℃ dan termometer untuk pengukuran suhu B. Pemijahan 1. Seleksi Induk Ciri – ciri induk betina matang gonad adalah : ¤ Perut membesar dan lembek serta alat kelamin memerah ¤ Ukuran tubuh lebih besar daripada jantan ¤ Berat tubuh antara 500 – 1000 gram per ekor ¤ Umur sekitar 8 bulan – 1 tahun ¤ Telur berwarna coklat kemerahan Ciri – ciri induk jantan matang gonad adalah : ¤ Perutnya ramping, alat kelamin meruncing dan berwwarna merah ¤ Ukuran tubuh lebih kecil daripada betina ¤ Berat tubuh antara 400 sampai 700 gram per ekor ¤ Umur sekitar 1 – 1, 5 tahun Hasil seleksi ditampung pada HAPA yang berbeda sesuai jenis kelamin dengan ukuran hapa 2 x 1 m 2. Pemberokan ± 1 – 2 hari, agar tidak ada lemak didalam tubuh (kantong sperma dan sel telur) 3. Penimbangan Sebelum dilakukan injeksi, masing – masing induk harus ditimbangdan hasil penimbangan dicatat pada buku rekaman 4. Penyuntikan ¤ Rumus dosis ovaprim untuk penyuntikkan pertama induk betina Berat (gram) x dosis ovaprim (0, 5 ml) x 1/3 ¤ Rumus dosis ovaprim untuk penyuntikkan kedua induk betina : Berat induk (gram) x dosis ovaprim (0, 5 ml) x 2/3 ¤ Rumus dosis ovaprim untuk penyuntikkan induk jantan : Berat ikan (gram) x dosis ovaprim (0, 25 ml) ¤ Penyuntikkan induk betina dilakukan sebanyak dua kali dengan interval waktu selama 6 (enam) jamyang bertujuan agar telur benar – benar matang dan siap dibuahi ¤ Penyuntikkan dilakukan pada bagian punggung atau disamping sirip punggung, untuk penyuntikkan induk betina lokasi harus dibedakan antara injeksi pertama dan kedua ¤ Penyuntikkan induk jantan dilakukan pada saat penyuntikkan kedua induk betina 5. Pembedaan Induk jantan ¤ Sebelum induk jantan dibedah, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kematangan tingkat ovulasi induk betina ¤ Pembedahan dilakukan pada bagian perut dimulai pada bagian dada (dibawah sirip dada) sampai alat kelamin ¤ Kantong sperma dibersihkan dari darah dengan menggunakan larutan Nacl. Sperma yang bagus adalah sperma yang berwarna kuning kehijauan 6. Stripping Induk Betina Jika larutan sperma telah siap, maka dilakukan stripping induk betina dari bagian atas sirip dada kea rah alat kelamin, telur kemudian ditampung pada cawan 7. Pencampuran Sperma dan Sel Telur Telur dan sperma diaduk dengan bulu ayam sampai menyatu kemudian dicuci dengan air bersih 8. Penebaran Telur Media Penempelan Telur adalah aquarium, dipastikan telur tidak menggumpal dan tersebar merata. Kemudian pasang aerasi thermometer dan heater dengan suhu 28 - 30℃ C. Kultur Artemia Artemia adalah pakan alami yang diberikan pada larva umur 3 – 10 hari di aquarium 1. Kultur ∞ Pada hari ke 1 sampai ke 3, dosis artemia untuk kultur adalah 50 gram per corong penetasan. Hari ke 4 sampai hari ke 10 dengan dosis 70 gram per corong ∞ Kista sebelumnya direndam selama 5 – 10 menit ∞ Garam dilarutkan sebanyak 800 – 1000 gram dengan air sebanyak 32 liter ∞ Masukkan aerasi dan heater dengan suhu 28 - 29℃, artemia akan menetas selama 18 – 24 jam 2. Panen ∞ Sebelum melakukan panen, aerasi dan heater harus diangkat. Biarkan 10 menit, artemia akan menumpuk didasar ∞ Panen dilakukan sesuai dengan waktu makan larva selang waktu 6 (enam) jam sekali D. Pemeliharaan Larva di Aquarium 1. Pemeliharaan Larva Selama Larva di Aquarium, aerasi tetap pada kondisi terpasang, karena larva masih memerlukan asupan oksigen yang cukup. Penyifonan dilakukan dengan selang waktu 2 jam setelah pemberian pakan, kemudian air ditambah lagi sehingga seperti pada kondisi sebelumnya 2. Pemberian Pakan (artemia) dilakukan pada hari ke 3 sampai hari ke 10 dengan frekuensi 4X per hari dengan selang waktu 6 jam sekali secara adlibitum (tergantung kepadatan larva) E. Persiapan Kolam Pendederan Ruang Lingkup persiapan kolam pendederan adalah sebagai berikut : 1. Pengeringan dasar kolam dilakukan selama 2 – 5 hari, sampai air dasar kering dan tanah dasar terlihat retak – retak dan dilakukan setiap kali setelah panen benih 2. Pencangkulan / pembalikkan tanah dasar dan saluran kemalir dengan kedalaman ± 10 – 15 cm dan diatur kemiringan tanah dasar agar miring kea rah pintu pengeluaran air 3. Perbaikkan pematang/dasar kolam dilakukan untuk menghindari kemungkinan adanya kebocoran pada kolam 4. Pemupukkan berfungsi untuk menumbuhkan pakan alami (plankton) sebagai bahan makanan alami bagi larva. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 250 – 500 gram per meter 5. Pengapuran dilakukan setelah pengolahan tanah dasar selesai. Berfungsi untuk mematikan hama dan penyakit yang ada di tanah dasar ataupun sisi kolam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur pertanian (CaO) dengan dosis 50 gram per meter luas kolam 6. Pengisian air kolam dengan ketinggian air ± 30 cm selama 4 – 5 hari untuk menumbuhkan pakan alami dan penambahan air pada hari ke 6 sampai ketinggian ± 80 cm 7. Pemeriksaan kualitas air dilakukan pada pagi hari pada kolam pendederan. Hasil Pemeriksaan DO, PH, dan suhu direkap pada buku rekaman F. Pendederan 1. Penebaran Larva Dilakukan pada malam hari (suhu rendah. Pada sore hari, larva tidak perlu diberi pakan artemia. Kepadatan penebaran adalah 75 – 100 ekor per m³. Periode pendederan terbagi atas : Pendederan I : 20 hari ukuran 1 inci Pendederan II : 15 hari ukuran 1 inci ke atas 2. Pemberian Pakan Pakan diberikan dengan dosis 10% pada pendederan pertama, 7 % pada pendederan kedua dan ketiga, dengan frekuensi 3 – 4 kali sehari Rumus pemberian pakan adalah : Σ total x berat rerata (gram/ekor) x % = … gram 3. Pengamatan Kesehatan benih Perlu dilakukan, benih yang sehat gerakannya aktif/lincah, morfologi normal, warna cerah dan suka beergerombol. Benih yang sakit di isolasi di kolam karantina/bak fiber yang selanjutnya diberi penanganan / pengobatan dengan cara merendam benih pada larutan garam curah. Juga perlu diperhatikan kualitas pakan yang diberikan. Jika ada benih yang mati, segera dikubur agar tidak menular kepada benih yang sehat 4. Pemeriksaan kualitas air Dilakukan pada pagi hari, pada kolam pendederan. Hasil pemeriksaan DO, PH dan suhu direkap pada buku rekaman G. Panen 1. Persiapan Panen Dilakukan dengan memasang hapa penampungan sebanyak 4 (empat) buah untuk masing – masing ukuran hasil panen 2. Panen Dilakukan pada malam hari pukul 20.00 WIB pada saat suhu rendah 3. Pengeringan Kolam Dilakukan pada pagi hari dengan tujuan panen total benih yang masih tersisa 4. Hasil Grading Benih, terdiri atas : » Grading I : Ukuran 1 Inci » Grading II : Ukuran 1 Inci Ke atas » Grading III : Ukuran 2 Inci » Grading IV : Ukuran 2 Inci Ke atas 5. Pemberokan dilakukan selama 24 jam, agar benih kembali sehat dan mengurangi stress paasca panen H. Distribusi 1. Persiapan packing menggunakan kantong plastic dengan panjang 80 – 100 cm dan dilapisi lagi dengan karung 2. Pengepakkan dengan perbandingan air sebanyak 1/3 again dari kantong plastic, benih sebanyak 500 – 1000 ekor per kantong dan oksigen murni sebanyak 2/3 bagian. Harus dipastikan plastic packing tidak bocor 3. Untuk Pengiriman jarak dekat, cukup menggunakan plastic packing dan karung saja. Sedangkan pengiriman jarak jauh bias menambahkan es batu yang dibungkus plastic, daun pisang kering dan menggunakan Styrofoam Distribusi dilakukan menggunakan alat transportasi yang memadai. Jika menggunakan mobil terbuka, packing disusun rapid an tutup bagian atasnya dengan menggunakan terpal. Tumpukkan kantong packing jangan melebihi 3 (tiga) tumpukkan untuk menghindari kebocoran karena tekanan Sumber : BBI Lokal Gunung Manau, Kalsel Minyak Cumi Minyak Cumi Merk CUMI 168 mempunyai manfaat antara lain : 1. Merangsang nafsu makan benur, nener, udang dan ikan 2. Mempercepat pertumbuhan ikan dan udang 3. Mempersingkat lamanya pemeliharaan udang dan ikan 4. Menjaga kestabilan air dan plankton saat pergantian air 5. Menjaga kestabilan air dan plankton saat hujan terus menerus 6. Dapat digunakan sebagai campuran pembuatan pelet untuk makanan ikan, udang dll

Wednesday, May 13, 2015

Budidaya Ikan Mas Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168

Hp. 0852.6435.6110 dan   0852.1079.2168


BUDIDAYA IKAN MAS


Pendahuluan

              Jenis ikan konsumsi air tawar yang palinh komplit teknik budidayanya yaitu ikan mas, mulai dari teknik pembenihan, pendederan, pembesaran, maupun pembesaran induk
Ikan Mas (Cyprinus carpio) termasuk dalam genus Cyprinidae.  Perkembangan budidaya ikan mas mengalami kemajuan yang sangat pesat dan mempunyai tingkat penbudidayaan yang hamper sempurna. Tidak ada ikan jenis lain yang mempunyai data data yang selengkap ikan mas ini, mulai dari jumlah telur yang dihasilkan induk hingga pemijahanpembuatan dengan rangsangan kelenjar hipofisasi

A.      Kebiasaan Hidup di Alam
Ikan Mas hidup di tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak begitu deras, baik itu merupakan sungai, danau, maupun pada genangan air lainnya. Ikan ini akan tumbuh baik pada ketinggian antara
150 – 1000 m. Suhu air optimal yang baik untuk pertumbuhan badannya antara 20 –  25℃, sedangkan PH air yang cocok yaitu 7 – 8. Kecepatan tumbuh ikan mas ini di kolam adalah 3 cm setiap bulannya

1.       Kebiasaan Makan
Biasanya, benih Ikan Mas akan memakan Protozoa dan Crustacea. Benih yang berukuran 10 cm memakan jasad dasar seperti chironomidae, oligochaete, dsbnya.  Di alam, danau atau sungai  tempat hidupnya, ikan inihidup menepi sambil mengincar pakan berupa binatang kecil yang hidup diatas lapisan lumpur tepi sungai atau danau

2.       Kebiasaan Berkembang Biak
Ikan mas mempunyai telur yang merekat atau dengan kata lain sifat telurnya adhesive atau menempel. Kebiasaan sebelum melakukan pemijahan di alam adalah mencari tempat yang rimbun dengan tanaman air atau rumput rumputan yang menutupi permukaan perairan. Ikan yang telah dewasa akan sangat mudah menemukan tempat yang dibutuhkan untuk merekatkan telurnya

B.      Memilih Induk
Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam pemilihan induk :
∞ Umur induk berkisar  1,5  – 3 tahun
∞ Tidak sakit atau cacat pada bagian badan atau sirip siripnya
∞ Sisik besar, susunan teratur dan cerah
∞ Panjang pangkal  ekor normal. Artinya perbandingan panjang pangkal ekor lebih panjang dari lebarnya

C.      Pemijahan
Untuk keberhasilan pemijahan ikan mas ini, ada beberapa syarat penting yang harus dipenuhi sesuai dengan kebiasaan berkembang biaknya, Ikan Mas menghendaki air yang selalu baru untuk merangsang pemijahannya dan disediakan  alat penempel telur setiap kali memijahkannya karena sifat telur ikan mas yang menempel

1.       Konstruksi Kolam
Fungsi kolam pemijahan ikan mas ini hanya sebagai tempat mempertemukan induk jantan dan betina  sehingga dapat dibuat dengan ukuran yang kecil, misalnya 3 m x 10 m atau 6 m x 10 m. Kolam pemijahan ini harus dibuat pada tanah yang keras. Hal ini untuk menghindari pengikisan pematang oleh air dan teraduknya lumpur dasar bila kolam sudah terisi air. Dengan adanya lumpur pada alat penempel telur, akan mengganggu daya tetas telur ikan tersebut karena lumpur akan menutupi dan menghambat pernapasan telur ikan tersebut
2.       Persiapan Kolam
Sebelum pemijahan, biasanya kolam dikeringkan dan dijemur 2 – 3 hari bila panasnya terik.  Namun, bila matahari sering tertutup awan, lamanya penjemuran kola mini harus ditambahkan hingga 5 –  7 hari
3.       Pemijahan
Induk  jantan dapat siap setiap saat, sedangkan induk betina membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan sebelum siap dipakai lagi.  Perbandingan  antara induk jantan dan betina yang sering dilaksanakan biasanya perbandingan 1 : 1. Oleh karena matang kelamin induk jantan lebih cepat dibandingkan induk betina. Biasanya untuk seekor induk betina dibutuhkan beberapa induk jantan.  Bila induk jantan ini tidak sesuai dengan induk betina, dikhawatirkan banyak telur yang tidak terbuahi karena kekurangan sperma.  Oleh karenanya, bila induk betina yang akan dipijahkan sebesar  3 kg, harus diimbangi dengan jantan seberat 3 kg juga meskipun jumlah 3 – 4 ekor
Untuk menjaga agar telur  tidak banyak yang terjatuh, kakaban yang dipasang haruslah cukup. Sebagai standar,  5 – 8 kakaban yang masih bagus untuk setiap kg induk betina. Jumlah itu akan membengkak menjadi 10 –  15 kakaban bila kakabannya rusak.  Oleh karena itu, untuk 5 kg bila betina yang dipijahkan, harus disediakan kakaban sebanyak 25 – 40 buah.
Telur telur akan dengan mudah terlihat mudah menempel di kakaban karena warna telur ini kuning cerah. Ada telur yang menggerombol dalam kakaban tersebut, ada pula yang merata, tidak bertumpuk.  Bila kakaban telah terisi penuh oleh telur, sedangkan ikan ikan tersebut masih belum menunjukkan tanda tanda akan berhenti, sebaiknya kakaban diangkat dan diganti yang dengan yang baru. Setelah selesai memijah, ikan harus segera diangkat untuk dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk karena sering kali induk akan memakan telur – telurnya sendiri

D.      Penetasan Telur
Telur – telur kemudian ditetaskan dalam hapa, yaitu kantong berbentuk balok 1m x 1m x 2m yang terbuat dari kain triin
Pada saat penetasan telur, aliran air dijaga tetap stabil dan jangan berhenti karena telur  - telur  tersebut membutuhkan air yang kaya oksigen dan stabil suhunya. Setelah 2 hari, telur akan mulai menetas

E.       Pendederan
Setelah 5 hari atau paling lambat seminggu semenjak telur menetas, beih ikan ini harus dipindahkan ke kolam pendederan. Pemindahan ini harus dilakukan dengan hati – hati. Sebelum memindahkan benih, kakaban yang sudah tidak ada telurnya ini diangkat dengan terlebih dahulu menggerakkan secara naik turun di dalam air agar benih yang terbawa. Kemudian,  salah satu sisi hapa yang terpendek dilipat perlahan – lahan
Setelah dirasa cukup, benih – benih yang terkumpul tersebut diciduk dengan menggunakan gelas yang bersih.  Pencidukkan ini dilakukkan mengikutsertakan sebagian airnya untuk menghindari stress pada benih benih yang masih lemah. Untuk memindahkannya, dapat menggunakan ember plastic atau baskom yang permukaannya lebar
Pemindahan ini harus dilakukan pada saat suhu air masih rendah, yaitu pagi atau sore hari.  Pemasukan benih dengan cara memasukkan ember plastic atau baskom tersebut ke dalam air kolam, lalu secara perlahan digulingkan agar airnya bercampur dan benihnya akan keluar
Pendederan pertama biasanya selama satu bulan karena kolam sudah kurang mampu lagi menyediakan pakan alami ikan mas. Oleh karena itu, benih – benih harus dipanen  untuk dapat dipindahkan ke kolam lain yang telah dipersiapkan dengan pengeringan dan pemupukkan

F.       Pembesaran
Tinggi permukaan air untuk pendederan 40  -  50 cm, sedangkan untuk pembesaran dapat dipertinggi 60 – 80 cm atau disesuaikan dengan daya tahan ikan terhadap tekanan air.  Ikan yang lebih besar  tentunya  akan dapat lebih tahan terhadap tekanan air dibandingkan dengan benih benih ikan yang lebih kecil.  Penambahan pakan tambahan yang kandungan proteinnya tinggi dapat berpengaruh berpengaruh besar pada pertumbuhannya. Pakan yang diberikan berupa pellet, yang kadar proteinnya 40%.  Pemberian pakan berkisar 3 -  5 % dari berat badan seluruh ikan yang ditebar. Pakan yang diberikan pada waktu pagi dan sore hari
Setelah 4 – 6 bulan, dari benih berukuran  5 – 8 cm akan dapat dipanen ikan mas berukuran 40 – 60 gram /ekor

Sumber :
Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Barat

Info lainnya : rumahagro168.blogspot.com

Budidaya Ikan Kelabau Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168


  Hp. 0852.6435.6110
      0852.1079.2168

Budidaya Ikan Kelabau

1.       Pendahuluan
Ikan Kelabau memiliki nilai ekonomis penting karena harganya relative cukup mahal di pasaran dan mulai jarang ditemukan. Sekitar 17 spesies Ikan Kelabau (Osteochilus melanopleura) ditemui menyebar dikawasan asia termasuk Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sumatera dan Kalimantan. Ikan ali daeerah ini dikenal sebagai  Osteochilus kelabau dan Osteochilus  melanopleura. Ikan Kelabau  memiliki performa mirip dengan ikan nilem namun dengan ukuran yang lebih besar. Ukuran ikan kelabau dapat mencapai 1 sampai 3 kg per ekor

II. Biologi Ikan Kelabau
Ikan Kelabau Betina pertama matang gonad pada ukuran 28 sampai 30 cm dengan kisaran berat 0,6 sampai 2, 5 kg per ekor. Sedangkan  pada ikan jantan ddengan panjang total  >  26 cm dengan berat 0.5 sampai 1kg  per ekor, sangat mudah mengeluarkan sperma saat perut ditekan dengan lembut. Indeks gonadosomatik untuk siklus satu tahun pada bulan Desember sampai April.  Sedangkan puncak reproduksinya pada bulan Februari. Bulan bulan ini bertepatan dengan periode hujan
Ciri ciri kelamin induk Ikan Kelabau secara morfologi diperlihatkan dengan bentuk tubuh jantan yang cenderung ramping dan memanjang, sedangkan ciri induk ikan Kelabau betina ukuran tubuh relative lebih besar dan melebar

III. Morfologi
Spesies local Osteochilus yang terbesar dan mudah dikenali dengan melihat mulutnya, batas bibir, sirip punggung yang panjang,  tubuhnya berwarna hijau  ke abu abuan dengan  bercak bercak keperakan dan bercak kehitaman melintang besar pada anterior bagian tubuh. Ikan Kelabau memiliki bentuk tubuh agak bulat pipih dan memanjang dan merupakan ciri bagi ikan yang termasuk perenang cepat. Kepala bagian sebelah atas agak mendatar , mulut berukuran kecil, garis linea literalis tidak terputus, bagian punggung berwarna  kehijauan dan bagian perut berwarna putih. Pada sirip dorsal agak panjang, gurat sisi melengkung agak kebawah dan berakhir pada ekor bagian bawah, serta mempunyai 2 pasang sungut. Panjang maksimum ikan ini dapat mencapai 30 sampai 35 cm

Menurut Universal Fish Cataloque (2012) mengklasifikasikan Ikan Kelabau sebagai berikut :
Kingdom         :  Animalia
Phylum           :  Chordata
Subphylum    :  Vertebrata
Superclass      :  Gnathostomata Teleosto
Grade             :  ml
Subclass         :  Neopterygil
Division          :  Teleostel
Subdivision    :  Euteleostel
Superorder    : Ostariophysi
Series             :   Otophysi
Order             :   Cypriniformes
Family            :   Cyprinidae
Genus            :   Osteochilus
Species          :   Osteochillus melanopleura (Blenkeer 1852)

Teknis Pembenihan
a.       Seleksi Induk
¤   Induk dipelihara di kolam mengalir dengan kepadatan  0, 5 kg per meter kubik. Setiap hari diberikan pakan pellet sekitar 3 % dari berat tubuh
¤  Ciri ciri induk siap pijah
    Betina pertu buncit, lembek dan lubang kelamin berwarna kemerah merahan
    Jantan : perut langsing, bila diurut dari perut kea rah kelamin keluar cairan berwarna putih atau sperma
¤ Pemijahan Ikan Kelabau dilakukan dengan cara buatan, dengan menggunakan hormone ovaprim dengan dosis  0,5 sampai 0,6 ml per kg untuk merangsang ovulasi
¤ Induk betina disuntik dua kali dengan selang waktu antara suntikan pertama dan kedua adalah 8 jam sampai 10 jam
¤  Dosis penyuntikkan untuk induk betina adalah 1/3 bagian dan penyuntikkan 2/3 bagian. Untuk penyuntikkan pertama induk jantan disuntik dengan dosis 0, 5 ml per ekor bersamaan waktunya dengan penyuntikkan kedua, pada induk betina
¤ Perbandingan induk jantan dan induk betina 2 : 1
¤ Untuk lebih meyakinkan kematangan gonad induk betina dan jantan diberok 1 hari
¤ Pemijahan ikan kelabau dilakukan di dalam bak pemijahan
¤ Selama pelaksanaan pemijahan air harus terus mengalir
¤ Ovulasi Induk betina ikan kelabau terjadi sekitar  5 sampai 10 jam setelah penyuntikkan kedua

b.      Penetasan

 ¤  Pengeluaran Telur  (stripping telur)
     Disediakan wadah penampungan telur berupa baki plastic. Beberapa menit sebelum stripping telur, terlebih dahulu dilakukan stripping sperma dengan dicampur larutan fisilogis 1 : 15 ml. Telur dan sperma tersebut dicampurkan dengan hati hati pada baki tersebut
 ¤ Kemudian telur ditetaskan di dalam akuarium yang dilengkapi aerasi dengan kepadatan 100 – 2 butle per liter dengan suhu air di akuarium 27 sampai 30
 ¤ Telur biasanya akan menetas  15 samp ai 21 jam kemudian setelah fertilisasi, tergantung suhu diakuarium

c.       Pemeliharaan Larva
¤ Larva dipelihara dalam akuariumyang sama. Setelah telur menetas dilakukan pergantian air ¾ bagian dengan cara disirkulasi
¤ Larva diberi makan naupilus artemia pada waktu berumur 3 sampai 4 hari setelah menetas dengan kepadatan larva 40 ekor per liter di akuarium
¤ Pemberian pakan artemia pada pemeliharaan di akuarium selama 10 hari

d.      Kolam Pendederan
¤ Pendederan benih ikan kelabau dengan luas kolam 300 sampai  500 meter persegi
¤ Kolam Pendederan sudah dipersiapkan 4 sampai  5 hari sebelum penebaran benih dengan dosis pupuk kandang 250 gram per meter persegi dan kapur tohor  50 meter persegi
¤ Kemudian diisi air dengan kedalaman kolam pendederan sekitar  50 cm sampai 60 cm
¤ Pemeliharaan di kolam pendederan pertama dilakukan dengan kepadatan  50 ekor per meter persegi. Selama 25 hari  sudah berukuran 3 sampai  cm per ekor. Dan untuk kolam pendederan kedua selama 20 hari benih biasanya sudah berukuran  5 sampai 8 cm per ekor

¤ Pakan yang diberikan adalah pada pendedran pertama berupa pellet yang sudah dihaluskan seperti tepung sebanyak 0,6 kg per 10.000 ekor, dengan frekuensi 2 kali per hari pada pagi dan sore hari

Sumber : BBAT Kalsel

Informasi Perikanan lainnya kunjungi : www.rumahagro168.blogspot.com